Sabtu, 07 Januari 2012

sebagai renungan "menjaga lisan"

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar. (QS Al Ahzab [33]:70) Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam". Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara, tetapi setiap kali berbicara bisa dipastikan kebenarannya. Setiap butir kata bagai untaian mutiara yang indah, berharga, berbobot, dan monumental. Bahkan bisa menembus, menggugah, menghujam, dan memiliki daya ubah hingga menjadi kebaikan bagi siapa pun yang mendengarnya.

Mulut kita ini seperti corong teko. Teko hanya akan mengeluarkan isi yang ada. Kalau di dalamnya air bersih, yang keluar bersih. Kalau di dalamnya air kotor, yang keluar pun kotoran. Karenanya bila kita ingin mengetahui derajat seseorang, lihatlah dari apa yang diucapkannya.

Sebuah kitab mengisyaratkan tentang derajat orang dilihat dari pembicaraannya. Pertama, orang yang berkualitas. Cirinya, jika berbicara sarat dengan hikmah, solusi, ide, gagasan, ilmu, atau zikir. Jika diajak berbicara apa pun ujungnya selalu bermanfaat.

Kedua, orang yang biasa-biasa. Cirinya sibuk menceritakan peristiwa, hampir segala peristiwa dikomentari. Tidak terlarang menceritakan peristiwa, tapi renungkanlah apakah ada manfaatnya atau tidak. Ketiga, orang yang rendahan. Cirinya selalu mengeluh, mencela, atau menghina. Keempat, orang yang dangkal. Cirinya sibuk menyebut-nyebut amal, jasa, dan kebaikannya. Orang seperti ini ibarat gelas kosong yang inginnya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya dihargai terus.

Bagaimana halnya dengan orang yang suka bergosip? Bergosip sepertinya merupakan hal yang umum, padahal itu termasuk dosa besar dan tak akan diampuni Allah sebelum dimaafkan oleh orang yang digosipi. Gosip adalah menceritakan kejelekan seseorang yang bila mendengar sakit hati.

Bila kejelekan yang dibicarakannya itu benar, maka itu adalah ghibah yang dosanya sama dengan memakan bangkai saudara sendiri. Tapi bila yang dibicarakannya itu ternyata salah, maka itu adalah fitnah yang dosanya lebih keji daripada membunuh. Karenanya jangan pernah mau terlibat dalam perbincangan tentang kejelekan orang lain, karena bisa jadi kita memfitnah seseorang tanpa kita sadari.

Jika pernah bergosip, maka bertobatlah, mintalah ampun kepada Allah dan jangan sekali-kali mengulanginya, kecuali perbincangan yang dilakukan sebagai upaya untuk menolong dan memperbaiki kekurangan seseorang, bukan untuk sekadar membicarakan aibnya, apalagi untuk menyebarkan aibnya.

Bagaimana menghadapi orang yang tak bisa menjaga lidahnya? Kita tak bisa memaksa orang lain untuk bersikap sesuai dengan keinginan kita, tapi kita bisa memaksa diri kita untuk memberikan sikap terbaik terhadap orang lain.

Dengarkanlah pembicaraan orang lain sepanjang dalam kebenaran, tapi bila yang dibicarakannya kebatilan, maka kita harus menolong orang yang berbuat zalim dan yang dizalimi. Kita harus berani mempersingkat pembicaraan, memberhentikan, atau meninggalkannya. Syukur bila kita bisa memberi contoh bagaimana cara berbicara yang baik dan memberikan ilmu

tentang bagaimana menjaga lisan. Yang pasti jangan dihina, direndahkan atau diremehkan, sebab kita bisa menjaga lisan pun karena pertolongan dan taufik Allah jua, hingga kita justru berutang kepada orang-orang yang belum baik lisannya.

Lalu bagaimana bila ada orang yang rajin membaca Alquran, tapi lisannya tak terjaga? Kita jangan terlalu mudah menilai orang lain, sebaiknya kita husnudzan dulu. Mungkin ia sedang berusaha keras untuk menjaga lisannya, tetapi belum mencapai hasil yang diharapkan.

Ada orang yang lahir di lingkungan yang buruk sekali sedemikian rupa hingga, walaupun ia banyak belajar ilmu agama dan sudah berusaha untuk berubah, pengaruh masa lalunya masih kuat sekali. Orang ini perlu perjuangan yang lebih gigih daripada orang-orang yang lahir dalam lingkungan yang baik.

Tidak pernah seseorang terampil menjaga lisannya kecuali dengan ilmu dan kesungguhan melatih diri. Percayalah, makin banyak bicara, makin banyak peluang tergelincir lidah. Dan kalau tergelincir lidah, selain akan berdosa juga kehormatan kita akan runtuh. Tetapi orang yang banyak bicara tak selalu berarti buruk. Yang buruk itu adalah orang yang banyak membicarakan kebatilan. Para guru, ustaz, atau kiai justru bisa menjadi masalah jika tak berbicara.

Ya Allah, Engkau Mahatahu niat di balik setiap patah kata yang terucap. Ampunilah jikalau lisan ini sering riya, dusta, melukai hati hamba-hamba-Mu, atau tak menepati janji. Basahi lidah kami dengan kelezatan menyebut nama-Mu. Jadikan lisan kami menjadi lisan yang Kau ijabah doanya, menjadi cahaya ilmu, dan menjadi bekal bagi kepulangan kami kelak kepada-Mu

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar